TOJO UNA-UNA – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tojo Una-Una, Jafar M. Amin, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi Bandara Tanjung Api yang saat ini tidak lagi melayani penerbangan komersial.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam sebuah status dan pernyataan terbuka yang kemudian mendapat respons luas dari masyarakat.
Menurut Jafar M. Amin, Bandara Tanjung Api merupakan bukti nyata hasil kerja dan komitmen pembangunan pada masa kepemimpinan Bupati Tojo Una-Una periode 2005–2015, Damsik Ladjalani.
Penamaan bandara itu diambil dari lokasinya yang berada dekat kawasan Cagar Alam Tanjung Api.
“Pada awal peresmian, bandara ini pernah didarati pesawat Susi Air, kemudian Lion Air Simpati. Hingga November 2025, pesawat Susi Air masih melayani penerbangan. Namun saat ini, sudah tidak ada lagi pesawat yang mendarat di Bandara Tanjung Api,” ungkap Jafar, Rabu ( 31/12/2025)
Ia menilai, berhentinya aktivitas penerbangan tersebut menimbulkan kegelisahan masyarakat, khususnya pengguna jasa transportasi udara dan para wisatawan yang ingin berkunjung ke Kabupaten Tojo Una-Una sebagai salah satu daerah destinasi wisata di Sulawesi Tengah.
Kondisi tersebut, kata Jafar, memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat mengapa bandara dengan fasilitas yang memadai justru sepi penerbangan.
Ia menduga salah satu faktor yang patut dipertimbangkan adalah penamaan bandara.
Melalui pernyataannya, Jafar M. Amin kemudian mengajak seluruh masyarakat Tojo Una-Una untuk memberikan masukan terkait rencana perubahan nama Bandara Tanjung Api menjadi Bandara KH Muhammad Amin Lasawedi.
Usulan tersebut mendapat respons sangat positif dari netizen. Berdasarkan pantauan di kolom komentar media sosial, hampir seluruh warganet yang menanggapi menyatakan sangat setuju dengan rencana perubahan nama bandara tersebut.
Banyak netizen menilai pengabadian nama tokoh ulama daerah sebagai langkah tepat sekaligus berharap dapat membawa dampak positif bagi geliat penerbangan dan pariwisata di Tojo Una-Una.
Legislator Partai Nasdem ini mengaku mengusulkan hal tersebut terinspirasi dari perubahan nama Bandara Mutiara Palu menjadi Bandara Mutiara Sis Al-Jufri, yang mengabadikan nama ulama besar Sulawesi Tengah, Guru Tua. Setelah perubahan nama tersebut, aktivitas penerbangan di Palu terus meningkat dan pada tahun 2026 resmi berstatus sebagai bandara internasional.
“Alhamdulillah, respons masyarakat sangat baik. Semoga ini menjadi bahan pertimbangan bersama demi kemajuan transportasi udara dan pariwisata di Kabupaten Tojo Una-Una,” pungkasnya.


